KULINER

Gudeg Pawon

                  

Sebenarnya apa yang tersaji tidak berbeda dengan gudeg yang dijual di tempat lain. ”Ya, gudeg seperti biasa saja tidak ada yang berbeda,” ujar Bambang, menantu Mbah Prapto, yang delapan tahun terakhir ikut terjun di pawon.

Gudeg yang dijual Mbah Prapto adalah jenis gudeg basah yang merupakan perpaduan rasa manis dan gurih. Proses pembuatannya berbeda dengan gudeg kering yang umumnya dimasak lama dengan lauk dibacem agar bisa tahan lama. Adapun gudeg basah disajikan dengan lauk berkuah yang segar.

Sumarwanto (47), anak kedua Mbah Prapto, menceritakan, proses pembuatan gudeg dimulai pukul 09.00. Seluruh keluarga terlibat dalam memproses 10-15 kilogram nangka muda, 200 butir telur ayam, dan 15 potong ayam kampung beserta krecek, tempe, tahu, kelapa, dan gula merah.

Sepupu Sumarwanto, Tuti, hingga kini bahkan bisa mengupas kulit 200 butir telur ayam dalam waktu setengah jam! ”Ya, setiap hari kerjanya begitu, jadi sudah biasa saja,” katanya.
Pukul 17.00 semua proses berhenti. Waktunya untuk istirahat. Sekitar pukul 21.00 aktivitas kembali dimulai. Mereka menanak nasi dengan dandang yang terbuat dari tanah liat dan memanasi gudeg serta lauk-pauknya di tungku berbahan bakar kayu yang didatangkan dari Gunung Kidul.

THE BEST CAR
THE BEST HOTEL
THE BEST DESTINATION